RPP TIK

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN   01
Nama Sekolah

:

SMA N 3 Rembang
Mata Pelajaran

:

Bahasa Jawa
Kelas/Program/ Semester

:

X/ 2
Pertemuan ke-

:

1
Alokasi Waktu

:

2 X 45 menit
Standar Kompetensi

:

MENDENGARKANMampu mendengarkan dan lisan memahani wacana astra maupun nonsastra dalam berbagai ragam bahasa Jawa.
Kompetensi Dasar

:

 Mendengarkan berita yang disampaikan melalui media elektronik
Indikator

:

1.  Menyebutkan sumber berita2.  Menyebutkan pokok-pokok isi berita (5W + 1 H)3.  Merangkum pokok-pokok isi berita dengan kalimat sendiri4.  menyampaikan secara lisan rangkuman pokok-pokok berita yang telah ditulisnya5.  menanggapi (isi) berita yang disampaikan secara lisa

A. Indikator

  1. Peserta didik dapat menyebutkan sumber berita
  2. Menyebutkan pokok-pokok isi berita (5W + 1 H)
  3. Merangkum pokok-pokok isi berita dengan kalimat sendiri
  4. menyampaikan secara lisan rangkuman pokok-pokok berita yang telah ditulisnya
  5. menanggapi (isi) berita yang disampaikan secara lisan

B. Materi Pembelajaran

Materi Klik Disini

C.           Metode Pembelajaran

Tanya jawab; Inkuiri; Diskusi; Belajar dalam kelompok; dan Penugasan

D.           Skenario Pembelajaran

No

Kegiatan

Waktu

1.

2.

3.

 Kegiatan Awal

Motivasi:    1.      Guru bertanya jawab dengan siswa tentang pawarta

2.      Guru bertanya jawab dengan siswa tentang manfaat     mendengarkan pawarta

Kegiatan Inti

2.1 Eksplorasi

  • Peserta didik berkelompok dan menyimak pawarta
  • Guru membimbing peserta didik untuk mengidentifikasi pokok isi pawarta

2.2    Elaborasi

  • Peserta didik menyebutkan sumber berita
  • Menyebutkan pokok-pokok isi berita (5W + 1 H)
  • Merangkum pokok-pokok isi berita dengan kalimat sendiri
  • menyampaikan secara lisan rangkuman pokok-pokok berita yang telah ditulisnya
  • menanggapi (isi) berita yang disampaikan secara lisan

2.3    Konfirmasi

  • Guru memberikan umpan balik positif atas hasil diskusi dan tanggapan peserta didik mengenai pawarta/berita
  • Guru melakukan pengamatan atas kinerja peserta didik
  • Guru memberikan penghargaan kepada kelompok terbaik
  • Guru memberi motivasi kepada peserta didik yang belum berpartisipasi aktif

Penutup

  • Guru bersama dengan peserta didik mengadakan refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran.

* Guru memberi tugas tidak terstruktur sebagai pengayaan materi tentang           informasi internet

5

75

10

 E.           Media/ Sumber Pembelajaran
  • Buku Memetri Basa Jawa Kelas X
  • Damar Kelas X (MGMP BASA JAWA SMA DAN MA KAB REMBANG)
  • Rekaman pawarta

F.            Penilaian

Ø      Butir Penilaian:

1.      Saka ngendi sumbering pawarta ing dhuwur?

2.      Tulisen pokok-pokok isining pawarta sing kokrungokake!

3.      Tulisen ringkesan isi pawarta saka pokok-pokok pawarta sing koktulis!

4.      Critakna kanthi lisan pawarta sing wis kokringkes!

Ø      Pedoman Penyekoran:

No

Uraian

Kriteria Ketepatan

Benar

Setengah

Salah

1

Sumbering pawarta

10

5

0

2

Pokok-pokok isining pawarta

20

10

5

3

Ringkesan isi pawarta

30

15

5

4

Crita ringkesan pawarta

40

20

10

Total Nilai

100

50

20

Rembang, Januari 2011

Mengetahui,

Kepala Sekolah                                                                 Guru  Mata Pelajaran

 

Drs. SUHARTONO                                                             MASTIAH, S.Pd.

NIP. 19511019 1978031001                                      NIP. 19710425 2005022002

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN   02

Nama Sekolah

:

SMA N3   Rembang
Mata Pelajaran

:

Bahasa Jawa
Kelas/Program/ Semester

:

X/ 2
Pertemuan ke-

:

2
Alokasi Waktu

:

2 X 45 menit
Standar Kompetensi

:

BERBICARAMampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan nonsastra maupun sastra dengan menggunakan berbagai ragam dan unggah-ungguh bahasa Jawa
Kompetensi Dasar

:

Menyampaikan informasi  yang diperoleh dari radio, televisi atau internet.
Indikator

:

1.                Menyebutkan pokok-pokok informasi2.                Menuliskan pokok-pokok informasi3.                Mampu menyampaikan kembali kepada teman informasi yang telah didengarnya secara runtut4.                memberikan tanggapan informasi yang disampaikan teman (penaampilan, vokal, keruntutan isi).

A.  Tujuan Pembelajaran

    • Peserta didik dapat menyebutkan pokok-pokok informasi
    • Menuliskan pokok-pokok informasi
    • Mampu menyampaikan kembali kepada teman informasi yang telah didengarnya secara runtut
    • Tampilanmemberikan tanggapan informasi yang disampaikan teman (penaampilan, vokal, keruntutan isi). Menyebutkan pokok-pokok informasi

 B. Materi Pembelajaran

Materi Klik Disini

C.          Metode Pembelajaran

Tanya jawab; Inkuiri; Diskusi; Belajar dalam kelompok; dan Penugasan

D.           Skenario Pembelajaran

No

Kegiatan

Waktu

1.

2.

Kegiatan AwalMotivasi:   1.  Guru  bertanya jawab tentang media cetak maupun meia elektronik yang diketahuinya

2.  Guru menanyakan kepada siswa tentang kegunaan internet

Kegiatan Inti

2.1    Eksplorasi

Peserta didik memberikan contoh berita/informasi yang di dapat dari internet

2.2    Elaborasi

  • perserta didik Menyebutkan pokok-pokok informasi
  • Menuliskan pokok-pokok informasi
  • Mampu menyampaikan kembali kepada teman informasi yang telah didengarnya secara runtut
  • memberikan tanggapan informasi yang disampaikan teman (penaampilan, vokal, keruntutan isi).

2.3    Konfirmasi

  • Guru memberikan umpan balik positif atas hasil tanggapan peserta didik mengenai informasi dari internet
  • Guru melakukan pengamatan atas kinerja peserta didik
  • Guru memberikan penghargaan kepada siswa yang mampu mengungkapkan tanggapan tentang informasi dari internet sesuai unggah-ungguh basa
  • Guru memberi motivasi kepada peserta didik yang belum berpartisipasi aktif

Penutup

  • Guru bersama dengan peserta didik mengadakan refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran.
  • Guru memberi tugas tidak terstruktur sebagai pengayaan materi tentang informasi internet


5

75

10

E. Media dan Sumber Pembelajaran

  • Buku Memetri Basa Jawa Kelas X
  • Modul dan LKS Basa Jawa Kelas X (MGMP BASA JAWA SMA DAN MA KAB REMBANG)
  • Kamus Basa Jawa

F. Penilaian

Ø      Butir Penilaian:

1.      coba golekana pawarta  saka internet, banjur tulisen ringkesane nganggo ukaramu dhewe!

Ø      Pedoman Penyekoran:

No

Uraian

Kriteria Ketepatan

Benar

Setengah

Salah

1

Isi ringkesan

20

10

5

2

Pangrakiting tembung

20

10

5

3

Panulisan tandha wacan!

20

10

5

4

Karesikan tulisan

20

10

5

5

Jangkeping ringkesan

20

10

5

Total Nilai

100

50

5

Rembang, Januari 2011

Mengetahui,

Kepala Sekolah                                                                  Guru  Mata Pelajaran

 

Drs. SUHARTONO                                                            MASTIAH, S.Pd.

NIP. 19511019 1978031001                                      NIP. 19710425 2005022002

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Aksara Jawa kls X/1

Standar Kompetensi :  Mampu membaca dan memahami bacaan sastra maupun non sastra,berhuruf latin maupun Jawa         dengan berbagai ketrampilan dan teknik membaca.

Kompetensi Dasar :  Membaca pemahaman wacana berhuruf Jawa 10-15 kalimat.
AKSARA JAWA
carakan_rupa_aksara

SANDANGAN AKSARA JAWA
jw8

1. Wulu dalam bahasa Indonesia adalh bulu atau juga dapat diartikan sayap yang digunakan untuk terbang, yang memiliki filosofi agar dapat naik pada kedudukan yang tinggi juga dapat bermakna filosori ora enggon untuk mencapai kesempurnaan hidup.
2. Suku yang memiliki arti laku dalam bahasa Indonesia berarti jalan, yang bermakna filosofi menjalani hidup dengan sebaik-baiknya agar mengerti tujuan dan arti hidup ini.
3. Taling yang memiliki arti pendengaran (telinga) yang bermakna manusia diberi telinga atau pendengaran untuk mendengarkan hal-hal yang baik.
4. Taling Tarung yang memiliki arti pendengaran yang harus selalu tarung (bertarung) yaitu suara atau hal-hal yang didengarkan melalui telinga kita supaya di cerna dan diolah dengan ketajaman pikiran kita agar manusia menjadi bijaksana.
5. Ceceg yang juga disebut cecak yang berati wujudnya suatu tulisan. yang dalam aksara Jawa harus dituliskan dari arah kanan kekiri yang bermaksud mendahulukan kebaikan. Cecak juga bermakna ganda(bau) yang dimana manusia akan mati dan kembali kepada Tuhannya didalam alam yang abadi.
6.Pepet berarti pentog, tutug, tatao. selalu ingat kepada pencipta dengan Dzikrullah yang juga merupakan pencerminan diterimanya amalan kita dihadapan Tuhan.
6. Layar yang bermakna babar, jembar(luas), luas dalam menerima kenyataan dalam kehidupan. yang juga berarti lembah manah sabar dalam hati dan bijaksana.
7. Pangkon, dalam filosofi Jawa segala sesuatu yang dipangku itu pasti akan mati, sebagai contoh seseorang yang selalu tergantung kepada orang lain pasti akan sengsara dan mati apabila tidak ada lagi tempat bergantung. Dalam kehidupan sehari-hari mulut merupakan jalan keluarnya suatu ucapan yang dalam unen-unen Jawa luhur nisthaning asma gumantung wijiling pangandikan. Nista memiliki arti mati. Seseorang akan dihormati atau mati/nista karena ucapannya sendiri.

PASANGAN AKSARA JAWA
pasangan_aksara_jawa2
AKSARA SWARA
eeee

ANGKA JAWA
angka-jawa1

08aksararekan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

SK/KD,materi kls XI/2

SK :  Berbicara

Mampu mendengarkan dan memahami wacana lisan non sastra maupun sastra dalam berbagai ragam bahasa Jawa

KD : Membahastau mendiskusikan isi dan watak tembang macapat

Jenis dan Watak Tembang Macapat

oleh : Mastiah

Ada beberapa jenis tembang macapat. masing-masing jenis tembang tersebut memiliki aturan berupa guru lagu dan guru wilangan masing-masing yang berbeda-beda. Yang paling dikenal umum ada 11 jenis tembang macapat. Yaitu, Pocung, Megatruh, Pangkur, Dangdanggula, dll. Lebih lengkap nya sebagai berikut,..
1. Pangkur berasal dari nama punggawa dalam kalangan kependetaan seperti tercantum dalam piagam-piagam berbahasa jawa kuna. Dalam Serat Purwaukara, Pangkur diberi arti buntut atau ekor. Oleh karena itu Pangkur kadang-kadang diberi sasmita atau isyarat tut pungkur berarti mengekor dan tut wuntat berarti mengikuti.
2. Maskumambang berasal dari kata mas dan kumambang. Mas dari kata Premas yaitu punggawa dalam upacara Shaministis. Kumambang dari kata Kambang dengan sisipan – um. Kambang dari kata Ka- dan Ambang. Kambangselain berarti terapung, juga berarti Kamwang atau kembang. Ambang ada kaitannya dengan Ambangse yang berarti menembang atau mengidung. Dengan demikian, Maskumambang dapat diberi arti punggawa yang melaksanakan upacara Shamanistis, mengucap mantra atau lafal dengan menembang disertai sajian bunga. Dalam Serat Purwaukara, Maskumambang diberi arti Ulam Toya yang berari ikan air tawar, sehingga kadang-kadang di isyaratkan dengan lukisan atau ikan berenang.
3. Sinom ada hubungannya dengan kata Sinoman, yaitu perkumpulan para pemuda untuk membantu orang punya hajat. Pendapat lain menyatakan bahwa Sinom ada kaitannya dengan upacara-upacara bagi anak-anak muada zaman dahulu. Dalam Serat Purwaukara, Sinom diberi arti seskaring rambut yang berarti anak rambut. Selain itu, Sinom juga diartikan daun muda sehingga kadang-kadang diberi isyarat dengan lukisan daun muda.
4. Asmaradana berasal dari kata Asmara dan Dhana. Asmara adalah nama dewa percintaan. Dhana berasal dari kata Dahana yang berarti api. Nama Asmaradana berkaitan denga peristiwa hangusnya dewa Asmara oleh sorot mata ketiga dewa Siwa seperti disebutkan dalam kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja. Dalam Serat Purwaukara, Smarandana diberi arti remen ing paweweh, berarti suka memberi.
5. Dhangdhanggula diambil dari nama kata raja Kediri, Prabu Dhandhanggendis yang terkenal sesudah prabu Jayabaya. Dalam Serat Purwaukara, Dhandhanggula diberi arti ngajeng-ajeng kasaean, bermakna menanti-nanti kebaikan.
6. Durma dari kata jawa klasik yang berarti harimau. Sesuai dengan arti itu, tembangDurma berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana seram.
7. Mijil berarti keluar. Selain itu , Mijil ada hubungannya dengan Wijil yang bersinonim dengan lawang atau pintu. Kata Lawang juga berarti nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang bunganya berbau wangi. Bunga tumbuh-tumbuhan itu dalam bahasa latin disebut heritiera littoralis.
8. Kinanthi berarti bergandengan, teman, nama zat atau benda , nam bunga. Sesuai arti itu, tembang Kinanthi berwatak atau biasa digunakan dalam suasana mesra dan senang.
9. Gambuh berarti ronggeng, tahu, terbiasa, nama tetumbuhan. Berkenaan dengan hal itu, tembang Gambuh berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana tidak ragu-ragu.
10. Pucung adalah nama biji kepayang, yang dalam bahasa latin disebut Pengium edule. Dalam Serat Purwaukara, Pucung berarti kudhuping gegodhongan ( kuncup dedaunan ) yang biasanya tampak segar. Ucapan cung dalam Pucung cenderung mengacu pada hal-hal yang bersifat lucu, yang menimbulkan kesegaran, misalnya kucung dan kacung. Sehingga tembang Pucung berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.
11. Megatruh berasal dari awalan am, pega dan ruh. Pegat berarti putus, tamat, pisah, cerai. Dan ruh berarti roh. Dalam Serat Purwaukara, Megatruh diberi arti mbucal kan sarwa ala ( membuang yang serba jelek ). Pegat ada hubungannya dengan peget yang berarti istana, tempat tinggal. Pameget atau pamegat yang berarti jabatan. Samgat atau samget berarti jabatan ahli, guru agama. Dengan demikian, Megatruh berarti petugs yang ahli dalam kerohanian yang selalu menghindari perbuatan jahat.
Ada pula yang memasukkan tembang gede dan tembang tengahan ke dalam macapat. Tembang-tembang tersebut antara lain
1. Wirangrong berarti trenyuh ( sedih ), nelangsa ( penuh derita ), kapirangu ( ragu-ragu ),. Namun dalam teks sastra, Wirangrong digunakan dalam suasana berwibawa.
2. Jurudemung berasal dari kata juru yang berarti tukang, penabuh, dan demung yang berarti nama sebuah perlengkapan gamelan. Dengan demikian, Jurudemung dapat berarti penabuh gamelan. Dalam Serat Purwaukara, Jurudemung diberi arti lelinggir kang landep atau sanding (pisau) yang tajam.
3. Girisa berarti arik (tenang), wedi (takut), giris (ngeri). Girisa yang berasal dari bahasa Sansekerta, Girica adalah nama dewa Siwa yang bertahta di gunung atau dewa gunung, sehingga disebut Hyang Girinata. Dalam Serat Purwaukara, Girisa diberi arti boten sarwa wegah, bermakna tidak serba enggan, sehingga mempunyai watak selalu ingat.
4. Balabak, dalam Serat Purwaukara diberi arti kasilap atau terbenam. Apabila dihubungkan dengan kata bala dan baka, Balabak dapat berarti pasukan atau kelompok burung Bangau. Apabila terbang, pasukan burung Bangau tampak santai. Oleh karena itu tembang Balabak berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

ngleluri kabudayan jawa

Abjad Latin Untuk Bahasa Jawa

OLEH DENMASDJO
Abjad Latin untuk keperluan menulis dan membaca Bahasa Jawa, dimaksudkan agar dapat digunakan sebagai pedoman bagi para Sutresna, khususnya yang bukan pemakai/penutur bahasa Jawa agar dapat membaca artikel/andharan secara benar.

1. Aksårå ‘a’ diwaca ‘a’
arang, branang, carang, dagang, egrang. gajah, haram, jamas, kramas, larang, marang, nantang, palang, rajah, sarang, tambak, warang, yasan.
2. Aksårå ‘a” diwaca ‘å’ Jåwå
ana, bara, cara, dasanama, gana, hama, jaka, kala, lara, mata, nata, para, rasa, tata, wanda.
ånå, bårå, cårå, dåsånåmå, gånå, håmå, jåkå, kålå, låra, måtå, nåtå, pårå, råså, tåtå, wåndå.
3. Aksårå ‘i’ diwåcå i,
aki aki, bibi, diri, giri, kisi, lindhu, kemiri, mili, nini, pipi, risi, tiris, wiji.
4. Aksårå ‘i’ diwåcå é Jåwå,
apik, batik, carik, dingklik, gundhik, jangkrik, kirik, lampit, manjing, nitis, pitik, resik, tasik, wisik.
‘i’ diwaca é, pratåndhanipún: ‘í’ katambahan layar manêngên.
apík, batík, carík, dingklík, gundhík, jangkrík, kirík, lampít, manjíng, nitís, pitík, resík, tasík, wisík.
5. Aksårå ‘u’ diwåcå u,
ayu, bayu, curiga, dudu, guru, juru, kuli, murid, numpak, puteri, rusak, tulis, wuwu, yuyu.
6. Aksårå ‘u’ diwåcå o Jåwå
amuk, batuk, catut, dadung, gabung, juntrung, kalung, murung, nundung, purun, rawuh, sampun, tembus, wurung.
‘u’ diwaca ó, pratåndhanipún: ‘ú’
katambahan layar manêngên.
amúk, batúk, catút, dadúng, gabúng, juntrúng, kalúng, murúng, nundúng, purún, rawúh, sampún, têmbús, wurúng.
7. Aksårå ‘e’ diwaca e pepet,
arem arem, bayem, cekel, deleng, gelem, jeneng, kereng, meneng, peteng, regeng, seneng, temen, weteng.
‘e’ pêpêt, pratåndhanipún, ‘caping’
arêm arêm, bayêm, cêkêl, dêlêng, gêlêm, jênêng, kêrêng, mênêng,
pêtêng, rêgêng, sênêng, têmên, wêtêng.
8. Aksårå ‘e’ diwaca é taling
bendhe, cempe, dhedhe, gendhong, kere, lele, mepe, nemplok, pepe, seje, teko, wewe.
‘é’ taling, pratåndhanipún: layar manêngên
bêndhé, cêmpé, dhédhé, géndhóng, kéré, lélé, mépé, némplók, pépé, séjé, téko, wéwé.
9. Aksårå ‘e’ diwaca è taling
bedheng, celeng, dendeng, gembel, jereng, kepeng, lempeng, menek, pereng, rembes, seng, tedheng.
‘è’ taling, pratåndhanipún: layar mangiwa
bèdhèng, cèlèng, dèndèng, gèmbèl, jèrèng, kèpèng, lèmpèng, mènèk, pèrèng, rèmbès, sèng, tèdhèng.
10. Aksårå ‘o’ diwaca ‘o’
ora, bodo, coro, dosa, gombal, kotak, loro, moto, nolak, rodha, soto, toko.
11. Aksårå ‘o’ diwåcå ó-jawa
among, bolong, corong, dodol, goroh, kothong, lodhong, momong, nonong, porong, robyong, tobong, wong.
‘ó’ o jåwå, pratåndhanipún, katambahan layar manêngên
amóng, bólóng, córóng, dódól, góróh, kóthóng, lódhóng, mómóng, nónóng, póróng, róbyóng, tóbóng, wóng.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

sk/kd 1 kls x/1

Standar Kompetensi : Menulis

Kompetensi Dasar : Menulis wacana tentang budaya jawa

UPACARA TINGKEPAN

OLEH DENMASDJO
UPACARA TINGKEPAN
Upacara tingkepan disebut juga mitoni berasal dari kata pitu yang artinya tujuh, sehingga upacara mitoni dilakukan pada saat usia kehamilan tujuh bulan, dan pada kehamilan pertama. Dalam pelaksanaan upacara tingkepan, ibu yang sedang hamil tujuh bulan dimandikan dengan air kembang setaman, disertai dengan doa-doa khusus.

Tata Cara Pelaksanaan Upacara Tingkepan Siraman dilakukan oleh sesepuh sebanyak tujuh orang. Bermakna mohon doa restu, supaya suci lahir dan batin.Setelah upacara siraman selesai, air kendi tujuh mata air dipergunakan untuk mencuci muka, setelah air dalam kendi habis, kendi dipecah. Memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain (sarung) calon ibu oleh suami melalui perut sampai pecah, hal ini merupakan simbul harapan supaya bayi lahir dengan lancar, tanpa suatu halangan. Berganti Nyamping sebanyak tujuh kali secara bergantian, disertai kain putih. Kain putih sebagai dasar pakaian pertama, yang melambangkan bahwa bayi yang akan dilahirkan adalah suci, dan mendapatkan berkah dari Tuhan YME. Diiringi dengan pertanyaan sudah “pantas apa belum”, sampai ganti enam kali dijawab oleh ibu-ibu yang hadir “belum pantas.” Sampai yang terakhir ke tujuh kali dengan kain sederhana di jawab “pantes.” Adapun nyamping yang dipakaikan secara urut dan bergantian berjumlah tujuh dan diakhiri dengan motif yang paling sederhana sebagai berikut :
– Sidoluhur
– Sidomukti
– Truntum
– Wahyu Tumurun
– Udan Riris
– Sido Asih
– Lasem sebagai Kain
– Dringin sebagai Kemben
Makna nyamping yang biasa dipakai secara berganti-ganti pada upacara mitoni mempunyai beberapa pilihan motif yang semuanya dapat dimaknai secara baik antara lain sebagai berikut :
– Wahyu Tumurun
Maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan selalu mendapat. Petunjuk dan perlindungan dari Nya
– Sido Asih
Maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang selalu di cintai dan dikasihi oleh sesama serta mempunyai sifat belas kasih
– Sidomukti.
Maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang mukti wibawa, yaitu berbahagia dan disegani karena kewibawaannya.
– Truntum.
Maknanya agar keluhuran budi orangtuanya menurun (tumaruntum) pada sang bayi.
– Sidoluhur.
Maknanya agar anak menjadi orang yang sopan dan berbudi pekerti luhur.
– Parangkusumo.
Maknanya agar anak memiliki kecerdasan bagai tajamnya parang dan memiliki ketangkasan bagai parang yang sedang dimainkan pesilat tangguh. Diharapkan dapat mikul dhuwur mendhem jero, artinya menjunjung harkat dan martabat orang tua serta mengharumkan nama baik keluarga.
– Semen romo.
Maknanya agar anak memiliki rasa cinta kasih kepada sesama layaknya cinta kasih Rama dan Sinta pada rakyatnya.
– Udan riris.
Maknanya agar anak dapat membuat situasi yang menyegarkan, enak dipandang, dan menyenangkan siapa saja yang bergaul dengannya.
– Cakar ayam.
Maknanya agar anak pandai mencari rezeki bagai ayam yang mencari makan dengan cakarnya karena rasa tanggung jawab atas kehidupan anak-anaknya, sehingga kebutuhan hidupnya tercukupi, syukur bisa kaya dan berlebihan.
– Grompol.
Maknanya semoga keluarga tetap bersatu, tidak bercerai-berai akibat ketidakharmonisan keuarga (nggrompol : berkumpul).
– Lasem.
Bermotif garis vertikal, bermakna semoga anak senantiasa bertakwa pada Tuhan YME.
– Dringin.
Bermotif garis horisontal, bermakna semoga anak dapat bergaul, bermasyarakat, dan berguna antar sesama.
Mori dipakai sebagai busana dasar sebelum berganti-ganti nyamping, dengan maksud bahwa segala perilaku calon ibu senantiasa dilambari dengan hati bersih.Jika suatu saat keluarga tersebut bahagia sejahtera dengan berbagai fasilitas atau kekayaan atau memiliki kedudukan maka hatinya tetap bersih tidak sombong atau congkak, serta senantiasa bertakwa kepada Tuhan YME. Pemutusan Lawe atau janur kuning yang dilingkarkan di perut calon ibu, dilakukan calon ayah menggunakan keris Brojol yang ujungnya diberi rempah kunir, dengan maksud agar bayi dalam kandungan akan lahir dengan mudah. Calon nenek dari pihak calon ibu, menggendong kelapa gading dengan ditemani oleh ibu besan. Sebelumnya kelapa gading diteroboskan dari atas ke dalam kain yang dipakai calon ibu lewat perut, terus ke bawah, diterima (ditampani) oleh calon nenek, maknanya agar bayi dapat lahir dengan mudah, tanpa kesulitan. Calon ayah memecah kelapa, dengan memilih salah satu kelapa gading yang sudah digambari Kamajaya dan Kamaratih atau Harjuna dan Wara Sembodro atau Srikandi. Upacara memilih nasi kuning yang diletak di dalam takir sang suami. Setelah itu dilanjutkan dengan upacara jual dawet dan rujak, pembayaran dengan pecahan genting (kreweng), yang dibentuk bulat, seolah-olah seperti uang logam. Hasil penjualan dikumpulkan dalam kuali yang terbuat dari tanah liat. Kwali yang berisi uang kreweng dipecah di depan pintu. Maknanya agar anak yang dilahirkan banyak mendapat rejeki, dapat menghidupi keluarganya dan banyak amal. Hidangan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan YME, yang disediakan dalam upacara Tingkepan antara lain :
a. Tujuh Macam Bubur, termasuk bubur Procot.
b. Tumpeng Kuat , maknanya bayi yang akan dilahirkan nanti sehat dan kuat, (Tumpeng dengan Urab-urab tanpa
    cabe, telur ayam rebus dan lauk yang dihias).
c. Jajan Pasar, syaratnya harus beli di pasar (Kue,buah,makanan kecil)
d. Rujak buah-buahan tujuh macam, dihidangkan sebaik-baiknya supaya rujaknya enak,bermakna anak yang
    dilahirkan menyenangkan dalam keluarga
e. Dawet, supaya menyegarkan.
f. Keleman Semacam umbi-umbian, sebanyak tujuh macam.
g. Sajen Medikingan, dibuat untuk kelahiran setelah kelahiran anak pertama dan seterusnya, macamnya : Nasi
   Kuning berbentuk kerucut
• Enten-enten, yaitu kelapa yang telah diparut dicampur dengan gula kelapa dimasak sampai kering.
• Nasi loyang, nasi kuning yang direndam dalam air,kemudian dikukus kembali dan diberi kelapa yang telah
  diparut.
• Bubur procot yaitu tepung beras, santan secukupnya, gula kelapa dimasak secara utuh, dimasukkan ke dalam periuk untuk dimasak bersama-sama
Kronologis Upacara Tingkepan
Waktu Pelaksanaan
Antara pukul 9.00 sampai dengan pukul 11.00 Calon ibu mandi dan cuci rambut yang bersih, mencerminkan kemauan yang suci dan bersih. Kira-kira pukul 15.00-16.00, upacara tingkepan dapat dimulai, menurut kepercayaan pada jam-jam itulah bidadari turun mandi. undangan sebaiknya dicantumkan lebih awal pukul 14.30 WIB
Hari Pelaksanaan
Biasanya dipilih hari Rabu atau hari Sabtu, tanggal 14 dan 15 tanggal jawa, menurut kepercayaan agar bayi yang dilahirkan memiliki cahaya yang bersinar, dan menjadi anak yang cerdas.
Pelaksana yang menyirami/memandikan
Para Ibu yang jumlahnya tujuh orang, yang terdiri dari sesepuh terdekat. Upacara dipimpin oleh ibu yang sudah berpengalaman.
Perlengkapan yang diperlukan :
Satu meja yang ditutup dengan kain putih bersih, Di atasnya ditutup lagi dengan bangun tolak, kain sindur, kain lurik, Yuyu sekandang, mayang mekak atau letrek, daun dadap srep, daun kluwih, daun alang-alang. Bahan bahan tersebut untuk lambaran waktu siraman.
Perlengkapan lainnya
• Bokor di isi air tujuh mata air, dan kembang setaman untuk siraman.
• Batok (tempurung) sebagai gayung siraman (Ciduk)
• Boreh untuk mengosok badan penganti sabun.
• Kendi dipergunakan untuk memandikan paling akhir.
• Dua anduk kecil untuk menyeka dan mengeringkan badan setelah siraman
• Dua setengah meter kain mori dipergunakan setelah selesai siraman.
• Sebutir telur ayam kampung dibungkus plastic
• Dua cengkir gading yang digambari Kamajaya dan Kamaratih atau Arjuna dan Dewi Wara Sembodro.
• Busana Nyamping aneka ragam, dua meter lawe atau janur kuning
• Baju dalam dan nampan untuk tempat kebaya dan tujuh nyamping, dan stagen diatur rapi.
• Perlengkapan Kejawen kakung dengan satu pasang kain truntum. Calon ayah dan ibu berpakain komplet
  kejawen, calon ibu dengan rambut terurai dan tanpa perhiasan.
Selamatan/ Sesaji Tingkepan
1. Tumpeng Robyong dengan kuluban, telur ayam rebus, ikan asin yang digoreng.
2. Peyon atau pleret adonan kue/nogosari diberi warna-warni dibungkus plastik, kemudian dikukus.
3. Satu Pasang Ayam bekakah (Ingkung panggang)
4. Ketupat Lepet (Ketupat dibelah diisi bumbu)
5. Bermacam-buah-buahan
6. Jajan Pasar dan Pala Pendem (Ubi-ubian)
7. Arang-arang kembang satu gelas ketan hitam goring sangan
8. Bubur Putih satu piring
9. Bubur Merah satu Piring
10. Bubur Sengkala satu piring
11. Bubur Procot/ Ketan Procot, ketan dikaru santan, setelah masak dibungkus dengan daun/janur kuning yang
     memanjang tidak boleh dipotong atau dibiting.
12. Nasi Kuning ditaburi telur dadar, ikan teri goring, ayam,rempah
13. Dawet Ayu (cendol, santan dengan gula jawa)
14. Rujak Manis terdiri dari tujuh macam buah.
Perlengkapan selamatan Tingkepan diatas, dibacakan doa untuk keselamatan seluruh keluarga. Kemudian dinikmati bersama tamu undangan dengan minum dawet ayu sebagai penutup.
editore by masnjoo

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

budi pekerti jawa

BUDI PEKERTI JAWI

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

ngleluribasajawa

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN

BAHASA JAWA SMA/MA/SMK

1.

MENDENGARKAN
Memahami wacana lisan yang didengar baik wacana sastra maupun nonsastra dalam berbagai ragam bahasa Jawa berupa percakapan, pengumuman, berita, pidato, geguritan, macapat, dan cerita.

2.

BERBICARA
Mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan, sastra maupun nonsastra dengan menggunakan berbagai ragam dan unggah-ungguh bahasa Jawa, berupa bercerita, berdialog, dan berpidato.

3.

MEMBACA
Menggunakan berbagai keterampilan dan teknik membaca untuk memahami teks/wacana sastra maupun nonsastra dalam berbagai ragam bahasa Jawa berupa percakapan, pengumuman, berita, pidato, geguritan, macapat, cerita, dan huruf Jawa.

4.

MENULIS
Melakukan keterampilan menulis baik sastra maupun nonosastra dalam berbagai ragam bahasa Jawa untuk mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, perasaan, dan informasi  berupa percakapan, pengumuman, berita, pidato, artikel, geguritan, macapat, cerita, dan huruf Jawa.

STANDAR ISI

BAHASA JAWA SMA/MA/SMK

Kelas               : X

Semester         : 1

 

No.

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1.

MENDENGARKAN

Mampu mendengarkan dan lisan smemahani wacana astra maupun nonsastra dalam berbagai ragam bahasa Jawa.

1.1  Mendengarkan pengumuman kegiatan kemasyarakan

1.2 Mendengarkan cerita pengalaman yang disampaikan secara langsung atau melalui rekaman dalam ragam bahasa krama

1.3 Mendengarkan cerita rakyat yang disampaikan secara langsung atau melalui rekaman

2.

BERBICARA

Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan sastra maupun nonsastra dengan menggunakan berbagai ragam dan unggah-ungguhbahasa Jawa.

2.1  Berdialog menggunakan parikan/wangsalan

2.2  Bercerita pengalaman yang mengesankan dalam ragam krama

2.3  Berdialog mengenai cerita rakyat

3.

MEMBACA

Mampu membaca dan memahami  bacaan sastra maupun nonsastra, berhuruf Latin maupun Jawa dengan  berbagai keterampilan dan teknik membaca.

3.1 Membaca  pemahaman wacana nonsastra tentang budaya jawa

3.2 Membaca pemahaman wacana berhuruf Jawa 10-15  kalimat

3.3 Membaca indah geguritan

4.

MENULIS

Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan dalam berbagai jenis karangan nonsastra maupun sastra mengguna-kan berbagai ragam bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh dan menulis dengan huruf Jawa.

4.1 Menulis ringkasan wacana nonsastra tentang budaya jawa

4.2 Menulis wacana sederhana menggunakan huruf Jawa

4.3 Menulis geguritan

Kelas               : X

Semester         : 2

 

No.

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

5.

MENDENGARKAN

Mampu mendengarkan dan lisan smemahani wacana astra maupun nonsastra dalam berbagai ragam bahasa Jawa.

5.1 Mendengarkan berita yang disampaikan melalui media elektronik

5.2 Mendengarkan pembacaan cerkak yang disampaikan secara langsung atau rekaman

6.

BERBICARA

Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan nonsastra maupun sastra dengan menggunakan berbagai ragam dan unggah-ungguhbahasa Jawa.

6.1 Menyampaikan informasi  yang diperoleh dari radio, televisi atau internet.

6.2 Membahas atau mendiskusikan isi cerkak

7.

MEMBACA

Mampu membaca dan memahami  bacaan nonsastra maupun sastra, berhuruf Latin maupun Jawa dengan  berbagai keterampilan dan teknik membaca.

7.1 Membaca nyaring naskah berita

7.2 Membaca nyaring cerkak

8.

MENULIS

Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan dalam berbagai jenis karangan nonsastra maupun sastra mengguna-kan berbagai ragam bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh dan menulis dengan huruf Jawa.

8.1 Menulis wacana eksposisi dalam bentuk naskah berita pendek

8.2 Menulis wacana narasi dalam bentuk sinopsis cerkak

 

Kelas               : XI

Semester         : 1

 

No.

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1.

MENDENGARKAN

Mampu mendengarkan dan memahani wacana lisan nonsastra maupun sastra dalam berbagai ragam bahasa Jawa.

1.1  Mendengarkan sambutan atau khotbah yang disampaikan secara langsung atau rekaman

1.2  Mendengarkan wawancara

1.3  Mendengarkan geguritan yang disampaikan secara langsung atau berupa rekaman

2.

BERBICARA

Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan sastra maupun nonsastra dengan menggunakan berbagai ragam dan unggah-ungguhbahasa Jawa.

2.1 Menyampaikan sambutan dalam bentuk  pambagyaharja

2.2 Berdialog sesuai dengan tingkat kesantunan.

2.2 Membahas atau mendiskusikan  isi geguritan

3.

MEMBACA

Mampu membaca dan memahami  bacaan sastra maupun nonsastra, berhuruf Latin maupun Jawa dengan  berbagai keterampilan dan teknik membaca.

3.1 Membaca pemahaman paragraf berdasarkan letak kalimat utama.

3.2 Membaca pemahaman wacana berhuruf Jawa 10-15 kalimat

3.3 Nembang macapat

4.

MENULIS

Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan dalam berbagai jenis karangan nonsastra maupun sastra mengguna-kan berbagai ragam bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh dan menulis dengan huruf Jawa.

4.1 Menulis wacana sederhana dengan mempertimbangkan letak kalimat utama.

4.2 Menulis wacana sederhana menggunakan huruf Jawa.

4.3 Menulis geguritan

 

Kelas               : XI

Semester         : 2

 

No.

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

5.

MENDENGARKAN

Mampu mendengarkan dan memahani wacana lisan nonsastra maupun sastra dalam berbagai ragam bahasa Jawa.

5.1 Mendengarkan kegiatan musyawarah yang disampaikan secara langsung atau berupa rekaman

5.2 Mendengarkan tembang macapat yang disampaikan secara langsung atau berupa rekaman

6.

BERBICARA

Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan sastra maupun nonsastra dengan menggunakan berbagai ragam dan unggah-ungguhbahasa Jawa.

6.1 Membahas atau mendiskusikan isi tembang macapat

7.

MEMBACA

Mampu membaca dan memahami  bacaan sastra maupun nonsastra, berhuruf Latin maupun Jawa dengan  berbagai keterampilan dan teknik membaca.

7.1 Membaca nyaring naskah pidato

7.2 Nembang campursari

8.

MENULIS

Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan dalam berbagai jenis karangan nonsastra maupun sastra mengguna-kan berbagai ragam bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh dan menulis dengan huruf Jawa.

8.1 Menulis wacana persuasi dalam bentuk naskah pidato

8.2 Menulis parikan dan atau wangsalan

 

Kelas               : XII

Semester         : 1

No.

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1.

MENDENGARKAN

Mampu mendengarkan dan memahani wacana lisan nonsastra maupun sastra dalam berbagai ragam bahasa Jawa.1.1  Mendengarkan sambutan dalam upacara adat pengantin Jawa yang disampaikan secara langsung atau dalam bentuk rekaman

1.2  Mendengarkan cerita wayang yang disampai-kan secara langsung atau dalam bentuk rekaman

2.

BERBICARA

Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan sastra maupun nonsastra dengan menggunakan berbagai ragam dan unggah-ungguhbahasa Jawa.2.1 Menyampaikan sambutan dalam bentuk  pasrah penganten atau panampi pasrah penganten dalam upacara adat pengantin Jawa

2.2 Mendiskusikan pitutur luhuryang terkandung dalam cerita wayang

3.

MEMBACA

Mampu membaca dan memahami  bacaan sastra maupun nonsastra, berhuruf Latin maupun Jawa dengan  berbagai keterampilan dan teknik membaca.

3.1 Membaca nyaring wacana berhuruf Jawa 20-25  kalimat

4.

MENULIS

Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan dalam berbagai jenis karangan nonsastra maupun sastra mengguna-kan berbagai ragam bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh dan menulis dengan huruf Jawa.

4.1 Menulis artikel tentang budaya Jawa

4.2 Menulis naskah drama/sandiwara

 

Kelas               : XII

Semester         : 2

 

No.

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

5.

MENDENGARKAN

Mampu mendengarkan dan memahani wacana lisan nonsastra maupun sastra dalam berbagai ragam bahasa Jawa.

5.1 Mendengarkan cermah tentang budaya jawa yang disampaikan secara langsung atau berupa rekaman

5.2 Mendengarkan rekaman drama/sandiwara

6.

BERBICARA

Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan sastra maupun nonsastra dengan menggunakan berbagai ragam dan unggah-ungguhbahasa Jawa.

6.1 Berbicara dalam forum sarasehan mengenai budaya jawa.

6.2 Mendiskusikan isi drama/ sandiwara

7.

MEMBACA

Mampu membaca dan memahami  bacaan sastra maupun nonsastra, berhuruf Latin maupun Jawa dengan  berbagai keterampilan dan teknik membaca.

7.1 Membaca naskah drama/sandiwara sesuai karakter tokoh.

7.2 Membacakan wacana panyandra

8.

MENULIS

Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan dalam berbagai jenis karangan nonsastra maupun sastra mengguna-kan berbagai ragam bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh dan menulis dengan huruf Jawa.

8.1 Menulis wacana argumentasi tentang budaya Jawa

 

 

 

 

 

 

 

SUPLEMEN MATERI AJAR BAHASA JAWA  SMA/MA/SMK*

 

No.

Materi

Paramasastra

Kagunan Basa

1.

Widyaswara (fonologi) Tembung Saroja

2.

Widyatembung (morfologi) Tembung  Yogyaswara

3.

Widyaukara (sintaksis) Tembung Garba

4.

Widyamakna (semantik) Tembung Plutan

5.

 Huruf Jawa Tembung Entar

6.

Rura Basa

7.

Baliswara

8.

Keratha Basa

9.

Cangkriman

10.

Parikan

11.

Saloka

12.

Bebasan

13.

Paribasan

14.

Sanepa

15.

Wangsalan

16.

Purwakanthi

17.

Panyandra

18.

Pepindhan

19.

Basa Rinengga

20.

Dasanama

Semarang, 1 Oktober  2010

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized